Senin, 15 Februari 2016

Mengapa Aku Menulis ?



Assalamualaikum, Wr. Wb.

MENGAPA AKU MENULIS ?
Mengapa aku menulis?  Itu adalah pertanyaan yang sederhana,  tapi itu adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk aku jawab, meski pertanyaannya se-sederhana itu, tapi artinya sangat dalam untukku. Tidak selamanya aku selalu ingin menulis, kadang semangat sekali untuk terus menulis menulis dan menulis, kadang juga tidak sama sekali, seperti mati rasa untuk berfikir sebuah kata-kata.
Oke, aku akan sedikit bercerita tentang alasan mengapa aku menulis.
Seperti yang kita ketahui di zaman modern ini yang namanya manusia mempunyai akal sehat pasti setiap hari melakukan kegiatan yang namanya menulis. Meski bukan berprofesi sebagai penulis, ataupun sekedar hobi menulis kata-kata, tapi secara sadar ataupun tidak sadar setiap hari orang pasti melakukan kegiatan yang satu ini. Apalagi kita seorang pemuda yang berstatus Mahasiswa, setiap hari setiap jam pasti bergelut dengan aktifitas yang satu ini. Seperti menulis materi yang diberikan Dosen didalam kelas, membuat artikel ataupun makalah untuk tugas presentasi, atau yang hanya sekedar menulis sms, ataunstatus difacebook, twitter, bbm, instagram, atau situs dunia maya yang lain, setiap orang dizaman modern ini pasti pernah melakukannya, dan pasti pernah. Cuman orang-orang yang kurang pergaulan atau Kuper yang tidak pernah menyentuh yang namanya dunia maya. Dan biasanya orang-orang itu disebut “ CUPU “ oleh sebagaian orang yang merasa dirinya gaul.
Oke, balik lagi ke menulis. Mengapa aku menulis? Jawabannya mudah, karna aku masih punya tangan untuk mengetik keybord computer atau sekedar memegang pensil yang panjangnya hanya 5 cm.. hehe, bercanda.
Sekarang gini aja, mengapa kita mencari ilmu segunung, menghabiskan uang berjuta-juta, tapi ilmu yang kita punya tidak bermanfaat bagi orang lain? Setiap hari ilmu yang kita pelajari dan kita kuasai itu tidak terhitung banyaknya, seperti ilmu ketika dikelas mendengarkan guru atau dosen yang mengajar, ilmu dari teman-teman diskusi dalam organisasi, ataupun yang suka belajar secara otodidak dengan hanya sekedar membaca buku ataupun dunia maya, banyak sekali ilmu yang bisa kita dapatkan dari semua itu, apa gunanya semua ilmu itu kalau kita tidak mengikatnya dengan tulisan? Akan sangat buruk akibatnya, mengingat didunia ini tidak ada yang abadi. Ikatlah ilmu itu dengan tulisan, agar ilmu tersebut tidak terlupakan ditelan zaman. Rasulullah s.a.w. telah mewasiatkan:
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ رواه الطبراني والحاكم وصححاه ووافقه الألباني
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (Riwayat Tabrani dan Hakim, keduanya menyatakan sebagai hadis sahih dan disetujui oleh Al-Albani)
Bayangkan, apa jadinya apabila ilmu itu tidak ditulis? Tentu gambaran yang sangat buruk jadinya. Contoh nyata, ketika Abu Bakar r.a. atas usulan Umar al-Khattab r.a. memerintahkan Zaid bin Tsabit r.a. agar mengumpulkan al-Quran yang masih berada di dada-dada para sahabat, untuk dituliskan atau dibukukan. Karena kekuatiran Umar al-Khattab r.a. pada masa itu. Kita bertanya, mengapa seorang khalifah kuatir? Karena pada masa itu, banyak huffazh (penghapal Al-Qur’an) yang gugur sebagai syuhada dalam peperangan. Dari situlah Umar al-Khattab r.a. melihat bahawa al-Quran itu perlu ditulis. (http://tamanulama.blogspot.co.id/2009/04/menulis-tradisi-ulama-yang-terlupakan.html)
Itulah beberapa hadits yang menyatakan betapa pentingnya menulis. Tapi banyak orang yang beranggapan menulis ataupun jadi penulis itu susah, mereka beralasan tidak punya bakat soal menulis. Bahkan ada juga yang setiap harinya digunakan untuk membaca lebih dari satu buku, tapi ketika disuruh menulis satu halaman saja sangat sulit.
Memang benar menulis itu tidak gampang, tidaklah segampang membalikkan telapak tangan, ataupun tidak segampang melangkahkan kaki untuk berjalan. Tapi sebenarnya menulis juga tidak susah, tidak sesusah menjilat hidung sendiri, dan juga tidak sesusah berjalan diatas air. Seperti aku contohnya, aku dilahirkan bukan dari keluarga yang berpendidikan tinggi, dari kecil aku tidak suka menulis, apalagi membakatinya. Bahkan ketika SD, SMP, aku tidak pernah mau ketika disuruh guru menulis pelajaran. Mungkin menulis bukanlah bakatku, mungkin bakatku hanyalah dibidang seni dan olahraga. Tapi seiring berjalannya waktu, perlahan aku mulai suka dengan kegiatan menggoyang-goyangkan tinta diatas kertas. Pertama kali aku menulis, tulisanku jelek sekali, aku hanya bisa menulis seadanya, tidak dengan kata-kata yang indah dan penuh makna. Tapi karna adanya kemauan, lama kelama’an aku mulai bisa menulis walaupun hanya 5 baris. Seperti yang aku ketahui, aku bukanlah orang yang suka bicara, atau dengan kata lain aku orangnya sedikit pendiam. Mungkin aku tidak bisa kalau disuruh berbicara dengan orang lain panjang lebar, aku juga tidak cukup ahli untuk berimajinasi ataupun sekedar mengkritisi lewat suara, aku suka grogi ketika harus disuruh mempresentasikan sesuatu kepada semua orang, aku kurang percaya diri. Dari kelemahan itulah aku lebih suka mengekspresikan opiniku lewat tulisan, karena dengan tulisan orsng sksn cenderung lebih terkesan, dan tidak ada satupun orang yang berani melarang, karna menulis adalah hak semua orang.
Menulis juga bisa dijadikan lambang kreatifitas seseorang, seperti halnya seni, menulis juga membutuhkan kreatifitas dan imajinasi yang tinggi, cara berfikir seseorang tentang apa yang dirasakan bisa menimbulkan keindahan kata serta keuletan gaya bahasa bisa menjadi kepuasan hati tersendiri untuk pembacanya, dan juga bisa menjadi nilai jual yang tinggi dipasaran.
Menulis adalah satu-satunya jalan ketika aku sedang kesusahan, menulis aku jadikan media untuk curhat melepaskan semua beban perasaan, entah itu hanya status biasa difacebook, twiter, ataupun artikel beribu-ribu karakter disebuah halaman blogger.
Ketika aku sedih, menulis. Ketika aku bahagia, menulis. Ketika aku tidak merasakan apa-apa pun juga menulis. Yang penting itu harus menulis, menulis, dan menulis. Meskipun tulisan kita sekarang tidak ada yang mau baca, tapi insya allah tulisan kita akan berguna bagi generasi selanjutnya.
Seperti kata-kata yang aku gak sengaja dengar dari kutipan sebuah film yang berjudul “Assalamualaikum Beijing” salah satu tokoh dalam film itu yang bernama Asma berkata : “Dengan semua rangkaian takdir yang Allah berikan, menulis karnanya menjadi penambah bekal dan amal jarizah, tambahan kebaikan jika sewaktu-waktu harus menghadap allah”
Dari kata-kata itu dapat kita simpulkan bahwa suatu tulisan bisa menjadi tambahan amal jarizah, jika penulis itu ikhlas semata-mata karena allah dan yang kita tulis itu suatu hal yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Hal ini dibenarkan juga oleh hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia maka terputus darinya amalannya, kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (Riwayat Muslim)

dari semua itu dapat kita simpulkan bahwa menulis sangat-sangatlah penting. Selain sebagai media untuk menyuarakan suara, sebagai ajang untuk mencurahkan isi hati, sebaga tempat untuk mengikat ilmu yang kita miliki, menulis juga bisa menjadi kebaikan yang pahalanya akan terus abadi.

Dan satu lagi,
Bagiku, jadi Penulis adalah suatu Impian. Karena, Setiap Kata adalah Keindahan.

Assalamualaikum, Terima kasih.

Disqus Shortname

Comments system