Assalamualaikum,
Wr. Wb.
MENGAPA AKU MENULIS ?
Mengapa
aku menulis? Itu adalah pertanyaan yang
sederhana, tapi itu adalah pertanyaan
yang sangat sulit untuk aku jawab, meski pertanyaannya se-sederhana itu, tapi
artinya sangat dalam untukku. Tidak selamanya aku selalu ingin menulis, kadang
semangat sekali untuk terus menulis menulis dan menulis, kadang juga tidak sama
sekali, seperti mati rasa untuk berfikir sebuah kata-kata.
Oke,
aku akan sedikit bercerita tentang alasan mengapa aku menulis.
Seperti
yang kita ketahui di zaman modern ini yang namanya manusia mempunyai akal sehat
pasti setiap hari melakukan kegiatan yang namanya menulis. Meski bukan
berprofesi sebagai penulis, ataupun sekedar hobi menulis kata-kata, tapi secara
sadar ataupun tidak sadar setiap hari orang pasti melakukan kegiatan yang satu
ini. Apalagi kita seorang pemuda yang berstatus Mahasiswa, setiap hari setiap
jam pasti bergelut dengan aktifitas yang satu ini. Seperti menulis materi yang
diberikan Dosen didalam kelas, membuat artikel ataupun makalah untuk tugas
presentasi, atau yang hanya sekedar menulis sms, ataunstatus difacebook,
twitter, bbm, instagram, atau situs dunia maya yang lain, setiap orang dizaman
modern ini pasti pernah melakukannya, dan pasti pernah. Cuman orang-orang yang
kurang pergaulan atau Kuper yang tidak pernah menyentuh yang namanya dunia
maya. Dan biasanya orang-orang itu disebut “ CUPU “ oleh sebagaian orang yang
merasa dirinya gaul.
Oke,
balik lagi ke menulis. Mengapa aku menulis? Jawabannya mudah, karna aku masih
punya tangan untuk mengetik keybord computer atau sekedar memegang pensil yang
panjangnya hanya 5 cm.. hehe, bercanda.
Sekarang gini aja, mengapa kita
mencari ilmu segunung, menghabiskan uang berjuta-juta, tapi ilmu yang kita
punya tidak bermanfaat bagi orang lain? Setiap hari ilmu yang kita pelajari dan
kita kuasai itu tidak terhitung banyaknya, seperti ilmu ketika dikelas
mendengarkan guru atau dosen yang mengajar, ilmu dari teman-teman diskusi dalam
organisasi, ataupun yang suka belajar secara otodidak dengan hanya sekedar
membaca buku ataupun dunia maya, banyak sekali ilmu yang bisa kita dapatkan
dari semua itu, apa gunanya semua ilmu itu kalau kita tidak mengikatnya dengan
tulisan? Akan sangat buruk akibatnya, mengingat didunia ini tidak ada yang
abadi. Ikatlah ilmu itu dengan tulisan, agar ilmu tersebut tidak terlupakan
ditelan zaman. Rasulullah s.a.w. telah mewasiatkan:
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
رواه الطبراني والحاكم وصححاه ووافقه الألباني
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”
(Riwayat Tabrani dan Hakim, keduanya menyatakan sebagai hadis sahih dan
disetujui oleh Al-Albani)
Bayangkan, apa jadinya apabila
ilmu itu tidak ditulis? Tentu gambaran yang sangat buruk jadinya. Contoh nyata,
ketika Abu Bakar r.a. atas usulan Umar al-Khattab r.a. memerintahkan Zaid bin
Tsabit r.a. agar mengumpulkan al-Quran yang masih berada di dada-dada para
sahabat, untuk dituliskan atau dibukukan. Karena kekuatiran Umar al-Khattab
r.a. pada masa itu. Kita bertanya, mengapa seorang khalifah kuatir? Karena pada
masa itu, banyak huffazh (penghapal Al-Qur’an) yang gugur sebagai syuhada dalam
peperangan. Dari situlah Umar al-Khattab r.a. melihat bahawa al-Quran itu perlu
ditulis. (http://tamanulama.blogspot.co.id/2009/04/menulis-tradisi-ulama-yang-terlupakan.html)
Itulah beberapa hadits yang
menyatakan betapa pentingnya menulis. Tapi banyak orang yang beranggapan
menulis ataupun jadi penulis itu susah, mereka beralasan tidak punya bakat soal
menulis. Bahkan ada juga yang setiap harinya digunakan untuk membaca lebih dari
satu buku, tapi ketika disuruh menulis satu halaman saja sangat sulit.
Memang benar menulis itu tidak
gampang, tidaklah segampang membalikkan telapak tangan, ataupun tidak segampang
melangkahkan kaki untuk berjalan. Tapi sebenarnya menulis juga tidak susah,
tidak sesusah menjilat hidung sendiri, dan juga tidak sesusah berjalan diatas
air. Seperti aku contohnya, aku dilahirkan bukan dari keluarga yang
berpendidikan tinggi, dari kecil aku tidak suka menulis, apalagi membakatinya.
Bahkan ketika SD, SMP, aku tidak pernah mau ketika disuruh guru menulis
pelajaran. Mungkin menulis bukanlah bakatku, mungkin bakatku hanyalah dibidang
seni dan olahraga. Tapi seiring berjalannya waktu, perlahan aku mulai suka
dengan kegiatan menggoyang-goyangkan tinta diatas kertas. Pertama kali aku
menulis, tulisanku jelek sekali, aku hanya bisa menulis seadanya, tidak dengan
kata-kata yang indah dan penuh makna. Tapi karna adanya kemauan, lama kelama’an
aku mulai bisa menulis walaupun hanya 5 baris. Seperti yang aku ketahui, aku
bukanlah orang yang suka bicara, atau dengan kata lain aku orangnya sedikit
pendiam. Mungkin aku tidak bisa kalau disuruh berbicara dengan orang lain
panjang lebar, aku juga tidak cukup ahli untuk berimajinasi ataupun sekedar
mengkritisi lewat suara, aku suka grogi ketika harus disuruh mempresentasikan
sesuatu kepada semua orang, aku kurang percaya diri. Dari kelemahan itulah aku
lebih suka mengekspresikan opiniku lewat tulisan, karena dengan tulisan orsng
sksn cenderung lebih terkesan, dan tidak ada satupun orang yang berani
melarang, karna menulis adalah hak semua orang.
Menulis juga bisa dijadikan
lambang kreatifitas seseorang, seperti halnya seni, menulis juga membutuhkan kreatifitas
dan imajinasi yang tinggi, cara berfikir seseorang tentang apa yang dirasakan
bisa menimbulkan keindahan kata serta keuletan gaya bahasa bisa menjadi kepuasan
hati tersendiri untuk pembacanya, dan juga bisa menjadi nilai jual yang tinggi
dipasaran.
Menulis adalah satu-satunya
jalan ketika aku sedang kesusahan, menulis aku jadikan media untuk curhat
melepaskan semua beban perasaan, entah itu hanya status biasa difacebook,
twiter, ataupun artikel beribu-ribu karakter disebuah halaman blogger.
Ketika aku sedih, menulis.
Ketika aku bahagia, menulis. Ketika aku tidak merasakan apa-apa pun juga
menulis. Yang penting itu harus menulis, menulis, dan menulis. Meskipun tulisan
kita sekarang tidak ada yang mau baca, tapi insya allah tulisan kita akan
berguna bagi generasi selanjutnya.
Seperti kata-kata yang aku gak
sengaja dengar dari kutipan sebuah film yang berjudul “Assalamualaikum Beijing”
salah satu tokoh dalam film itu yang bernama Asma berkata : “Dengan semua
rangkaian takdir yang Allah berikan, menulis karnanya menjadi penambah bekal
dan amal jarizah, tambahan kebaikan jika sewaktu-waktu harus menghadap allah”
Dari kata-kata itu dapat kita
simpulkan bahwa suatu tulisan bisa menjadi tambahan amal jarizah, jika penulis
itu ikhlas semata-mata karena allah dan yang kita tulis itu suatu hal yang baik
dan bermanfaat bagi orang lain. Hal ini dibenarkan juga oleh hadits Rasulullah SAW
yang berbunyi:
إِذَا
مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ صَدَقَةٌ
جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ
“Apabila
manusia meninggal dunia maka terputus darinya amalannya, kecuali tiga perkara;
sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.”
(Riwayat Muslim)
dari semua itu dapat kita
simpulkan bahwa menulis sangat-sangatlah penting. Selain sebagai media untuk menyuarakan
suara, sebagai ajang untuk mencurahkan isi hati, sebaga tempat untuk mengikat
ilmu yang kita miliki, menulis juga bisa menjadi kebaikan yang pahalanya akan
terus abadi.
Dan satu lagi,
Bagiku, jadi Penulis adalah
suatu Impian. Karena, Setiap Kata adalah Keindahan.
Assalamualaikum, Terima kasih.