Selasa, 16 Februari 2016

Contoh Makalah Tentang Anak Jalanan



Perspektif Masyarakat Terhadap Anak Jalanan
Nama : Arif Maulana Hasanudin
NIM : 1520110034
Abstrak
Permasalahan pendidikan di Indonesia makin bertambah dengan banyaknya anak yang putus sekolah. Mereka putus sekolah disebabkan karena harga untuk mengenyam pendidikan semakin mahal, tak dapat dipungkiri terjadi ketimpangan sosial dimana-mana. Keluarga yang miskin makin sulit untuk menyekolahkan anak, hal ini membuat para orang tua memilih untuk berhenti menyekolahkan mereka dan menyuruh mereka menjadi anak jalanan (peminta, pengamen, penjual koran dsb). Orang tua mereka, memilih mereka untuk menjadi anak jalanan dengan alasan agar mereka juga membantu perekonomian orang tua mereka karena tuntutan hidup semakin tinggi. Hal inilah yang menyebabkan tingginya angka anak putus sekolah dan tingginya angka anak jalanan.
Padahal sebenarnya menurut usia, mereka belum pantas untuk membantu ekonomi orang tua mereka. Karena tugas mereka sebenarnya adalah belajar dan mencari ilmu untuk bekal masa depan. Tapi hal itu tidak berlaku untuk keluarga miskin, untuk makan sehari-hari saja susah apalagi untuk menyekolahkan anak.
Upaya untuk mengatasi dilakukan dengan berbagai pendekatan yaitu: pendekatan penghapusan (abolition), pendekatan perlindungan (protection), pendekatan pemberdayaan (empowerment). Selain itu peluasan lapangan pekerjaan juga perlu dilakukan agar tidak ada orang tua yang menganggur yang menyebabkan anaknya menjadi putus sekolah dan beralih menjadi anak jalanan. Mengadakan program yang memberikan pendidikan gratis untuk anak putus sekolah terutama anak jalanan agar tetap dapat mengenyam pendidikan sebagai bekal untuk masa depan mereka sendiri, selain itu memberikan rumah singgah juga dapat membuat mereka merasa terlindungi dan diperhatikan oleh orang lain dari berbagai pihak.
Kata Kunci: Anak Jalanan, Pengamen, Masyarakat










Pendahuluan

Anak jalanan adalah seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan phsykis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunganya. Umumnya mereka berasal dari keluarga yang ekonominya lemah. Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif. Ketika mereka dewasa, besar kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan. Tanpa adanya upaya apapun, maka kita telah berperan serta menjadikan anak-anak sebagai korban tak berkesudahan. Menghapus stigmatisasi di atas menjadi sangat penting. Sebenarnya anak-anak jalanan hanyalah korban dari konflik keluarga, komunitas jalanan, dan korban kebijakan ekonomi permerintah yang memberatkan rakyat. Untuk itu kampanye perlindungan terhadap anak jalanan perlu dilakukan secara terus menerus setidaknya untuk mendorong pihak-pihak di luar anak jalanan agar menghentikan aksi-aksi kekerasan terhadap anak jalanan. Sesuai konvensi hak anak-anak yang dicetuskan oleh PBB (Convention on the Rights of the Child), sebagaimana telah diratifikasi dengan Keppres nomor 36 tahun 1990, menyatakan bahwa karena belum matangnya fisik dan mental anak-anak, maka mereka memerlukan perhatian dan perlindungan. Fenomena merebaknya anak  jalanan di Indonesia merupakan persoalansosial yang komplek. Hidup menjadi anak  jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada dalam kondisi yang tidak bermasa depan jelas, dan keberadaan mereka tidak
 jarang menjadi “masalah” bagi banyak pihak, keluarga, masyarakat dan negara.
Namun, perhatian terhadap nasibanak jalanan tampaknya belum begitu besar dan solutif. Padahal mereka adalahsaudara kita. Mereka adalah amanah Allah yang harus dilindungi, dijamin hak-haknya, sehingga tumbuh-kembang menjadi manusia dewasa yang bermanfaat, beradab dan bermasa depan cerah.
Begitu pula kiranya anak jalanan yang memerlukan perhatian dan perlindungan terhadap hak-haknya sebagai anak bangsa untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pengajaran.Melihat isi dari pasal 31 ayat 1 tersebut sangat bertolak belakang dengan yang dialami anak jalanan. Mereka hampir tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pengajaran. Ironisnya di tengah pendidikan bagi anak  jalanan yang terabaikan, DPR justru berencana mendirikan gedung baru yang megah
dengan alasan “kinerja”. Sepertinya akan lebih bijak apabila dana tersebut
digunakan untuk mendirikan sekolah untuk anak jalanan, memberikan honor bagi pengajar, dan penyediaan sarana belajar mengajar untuk mereka. Akan tetapi di balik hal tersebut kita patut bangga karena kepedulian masyarakat Indonesia terhadap pendidikan justru semakin tinggi.
PEMBAHASAN MASALAH

            Dalam bab ini saya akan membahas tentang kehidupan anak jalanan khususnya pengamen jalanan secara rinci agar saya dapat mengetahui bagai mana sebenarnya kehidupan di jalanan. Dalam bab ini saya juga melakukan observasi ke jalan dan mewawancarai pengamen jalanan.

A.     Definisi dan Batasan Anak Jalanan
Departemen Sosial RI mendefinisikan, “anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunyauntuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat lainnya”.
UNICEF memberikan batasan tentang anak jalanan, yaitu : Street child are those who have abandoned their homes, school and immediate communities before they are sixteen years of age, and have drifted into a nomadic street life (anak jalanan merupakan anak-anak berumur dibawah 16 tahun yang sudah melepaskan diri dari keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat terdekatnya, larut dalam kehidupan yang berpindah-pindah di jalan raya (H.A Soedijar, 1988 : 16).
Hidup menjadi anak jalanan bukanlah sebagai pilihan hidup yang menyenangkan, melainkan  keterpaksaan yang harus mereka terima karena adanya sebab tertentu. Anak jalanan bagaimanapun telah menjadi fenomena yang menuntut perhatian kita semua. Secara psikologis mereka adalah anak-anak yang pada taraf tertentu belum mempunyai bentukan mental emosional yang kokoh, sementara pada saat yang sama mereka harus bergelut dengan dunia jalanan yang keras dan cenderung  berpengaruh negatif bagi perkembangan dan pembentukan kepribadiannya. Aspek psikologis ini berdampak kuat pada aspek sosial. Di mana labilitas emosi dan mental mereka yang ditunjang dengan penampilan yang kumuh, melahirkan pencitraan negatif oleh sebagian besar masyarakat terhadap anak jalanan yang diidentikan dengan pembuat onar, anak-anak kumuh, suka mencuri, sampah masyarakat yang harus diasingkan.
Pada taraf tertentu stigma masyarakat yang seperti ini justru akan memicu perasaan alineatif mereka yang pada gilirannya akan melahirkan kepribadian introvert, cenderung sukar mengendalikan diri dan asosial. Padahal tak dapat dipungkiri bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa untuk masa mendatang.


B.        Bahasan Masalah
       Anak jalanan adalah anak yang sebagian besar waktunya berada di jalanan atau di tempat-tempat umum. Anak jalanan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : berusia antara 5 sampai dengan 18 tahun, melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan, penampilannya kebanyakan kusam dan pakaian tidak terurus, mobilitasnya tinggi.
       Kegiatan yang dilakukan anak jalanan di jalan menggunakan jalan sebagai tempat tinggal dan hidup, untuk bermain, untuk berjualan. Tempat tinggal anak jalanan tinggal di Taman Kota, tinggal di emper toko, dan tinggal di rumah. Sumber mendapatkan uang dengan cara meminta-minta, dengan cara berjualan, dan dengan cara mengamen. Pihak yang dinilai paling dekat dengan anak jalanan adalah orang tuanya, dengan saudaranya, dan dengan pihak lain.
Anak jalanan pada umumnya mempunyai keluarga yang berada di lingkungannya yang biasanya keluarganya adalah keluarga dari golongan yang kurang mampu secara materi, sehingga anak-anak mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga akan tetapi sesungguhnya peran orang tua anak jalanan tidak berperan secara maksimal, hal ini dapat dilihat manakala orang tua sangat mendukung untuk anaknya bekerja.
C.       Faktor penyebab munculnya anak jalanan
       Berdasarkan dari peta permasalahan anak jalanan baik yang berada di kota besar dapat dipetakan permasalahan sebagai berikut :
Anak jalanan turun ke jalan karena adanya desakan ekonomi keluarga sehingga orang tua menyuruh anaknya untuk turun ke jalan guna mencari tambahan untuk keluarga. Hal ini terjadi karena ketidak berfungsian keluarga dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
       Rumah tinggal yang kumuh membuat ketidak betahan anak berada di rumah, sehingga perumahan kumuh menjadi salah satu faktor pendorong untuk anak turun ke jalan.
Rendahnya pendidikan orang tua anak jalanan sehingga mereka tidak mengetahui fungsi dan peran sebagai orang tua dan juga ketidaktahuannya mengenai hak-hak anak.
Belum adanya payung kebijakan mengenai anak yang turun ke jalan baik kebijakan dari kepolisian, Pemda, maupun Departemen Sosial.
Belum optimalnya social control di dalam masyarakat.
Belum berperannya lembaga-lembaga organisasi sosial, serta belum adanya penanganan yang secara multi sistem base.

D.       Pandangan Masyarakat
1. Aparat Keamanan
       Pandangan aparat keamanan mengenai anak jalanan dinilai bahwa selama ini anak jalanan tidak pernah melakukan tindakan kriminal. Pada siang hari mereka pergi mengamen mengikuti jalur bus kota. Kejahatan yang paling sering dilakukan oleh anak jalanan yaitu berkelahi diantara mereka karena meributkan daerah operasi atau mencuri tetapi yang paling banyak adalah berkelahi diantara mereka. Penegak hukum hanya melakukan penahanan sesuai dengan Undang– undang yang berlaku karena belum ada hukum khusus mengenai anak– anak jalanan, dengan demikian masih dirasa cukup sulit untuk mengadakan pencegahan agar anak–anak tersebut tidak melakukan kejahatan, adapun yang saat ini telah dilakukan adalah dengan cara membatasi areal operasi anak jalanan atau jalur–jalur yang diperbolehkan untuk menjadi daerah operasinya. Sedang pada malam hari mereka berkumpul dan tidur di taman kota.
        Selain itu juga upaya yang telah dilakukan oleh aparat keamanan selain merazia adalah mengawasi secara terus-menerus, jangan sampai anak jalanan melakukan tindak kriminal atau tersangkut dengan penyalahgunaan narkoba.

2. Tokoh Agama
         Partisipasi tokoh agama sangat berperan dalam pengentasan anak jalanan. Sesungguhnya Islam memiliki konsep pembinaan keluarga. Islam juga mengajarkan betapa besar tanggungjawab orang tua dalam mendidik anak. Maka kalau anak-anak disibukkan dengan pendidikan, mereka tidak turun ke jalan.
         Sedang model yang dapat digunakan untuk meningkatkan pendapatan keluarga anak jalanan adalah: Perlu diperbanyak lembaga- lembaga sosial yang dapat menampung mereka. Kemudian untuk keluarganya perlu diberikan penyuluhan mengenai peningkatan penghasilan (ekonomi keluarga).
Mengenai pelibatan tokoh agama dalam rangka pemberdayaan ekonomi keluarganya menurut saya: Tokoh agama harus ikut mendorong mereka melalui penyuluhan dan pengajian akan pentingnya peningkatan ekonomi keluarga melalui usaha produktif.
          Adapun bentuk pembinaannya haruslah komprehensif dan semua pihak harus terlibat. Pihak pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, pondok pesantren, takmir masjid yang punya akses pada kemasyarakatan semuanya harus aktif, turut mengontrol proses pembinaan serta perkembangan anak jalanan. Selain itu, pembinaan juga bukan saja dari sisi moral, akan tetapi juga harus bersifat jangka panjang. Misalnya, mereka seyogyanya diberi bekal keterampilan agama, ke depan mereka dapat mandiri dan hidup terarah sesuai cita-citanya masing-masing.

3. LSM
          LSM mengharuskan anak jalanan harus tetap sekolah dengan cara sekolah di waktu senggang hal ini dilakukan agar anak tersebut tetap mendapat pendidikan yang layak dan memadai walaupun untuk menyadarkan anak-anak untuk sekolah masih sulit tetapi semakin hari semakin bertambah yang berminat untuk sekolah. Tidak kalah beratnya juga untuk menyadarkan orangtua agar anak-anak mereka tetap sekolah dengan berbagai penjelasan sehingga orang tua anak tersebut mendukung anaknya untuk sekolah. Untuk menangani anak jalanan, lembaga tersebut belum ada kerjasama dengan lembaga pemerintahan atau lembaga lainnya, dalam soal dana lembaga tersebut mencari donatur-donatur yang bersedia membantunya.

4. Alternatif Pemecahan Masalah
        Alternatif model penangannan anak jalanan mengarah kepada 3 jenis model yaitu family base, institutional base dan multi-system base.
Family base, adalah model dengan memberdayaan keluarga anak jalanan melalui beberapa metode yaitu melalui pemberian modal usaha, memberikan tambahan makanan, dan memberikan penyuluhan berupa penyuluhan tentang keberfungsian keluarga. Dalam model ini diupayakan peran aktif keluarga dalam membina dan menumbuh kembangkan anak jalanan.
        Institutional base, adalah model pemberdayaan melalui pemberdayaan lembaga-lembaga sosial di masyarakat dengan menjalin networking melalui berbagai institusi baik lembaga pemerintahan maupun lembaga sosial masyarakat.
Multi-system base, adalah model pemberdayaan melalui jaringan sistem yang ada mulai dari anak jalanan itu sendiri, keluarga anak jalanan, masyarakat, para pemerhati anak ,akademisi, aparat penegak hukum serta instansi terkait lainnya.


METODE PENELITIAN

            Dalam hal ini saya melakukan penelitian tentang kehidupn anak jalanan dengan cara riset lapangan,  atau dengan melakukan observasi, wawancara, dan kepustakaan.

1.       Observasi
Observasi dilakukan dengan cara pengamatan langsung kelokasi, agar data-data yang diharapkan benar-benar obyektif. Artinya data yang di ambil tidak di buat-buat. Obyek pengamatannya adalah Ingin mengetahui mengapa para pengamen itu lebih memilih hidup di jalanan.

2.      Wawancara
            Saya melakukan wawancara kepada sekelompok pengamen yang berada di terminal Kudus karena saya ingin mengetahui secara langsung bagaimana sebenarnya pengamen jalanan itu lebih memilih hidup di jalanan. Wawancara ini di lakukan pada waktu Selasa pagi tanggal 01 Desember 2015 jam 09:22 WIB.
Adapun hasil wawancara yang saya lakukan kepada para pengamen jalanana adalah sebagai berikut ;

Peneliti      : Permisi mas
Pengamen : iya, ada apa ya ?
Peneliti      : saya mau tanya-tanya sedikit tentang anak jalanan
Pengamen : buat apa ya ?
Peneliti      : buat penilitian
Pengamen : oh, ya udah silahkan
Peneliti      : kok bisa jadi anak jalanan itu gimana mas ?
Pengamen : Nggeh niku mas, anak jalanan niku modele nggeh sak olehe niku mas, penting ning dalan nggeh sak olehe, sak entuk e lah mas wonten sepine nggeh wonten ramene
Peneliti      : kenapa mau tinggal di jalanan mas ? kenapa kok nggak ikut orang tua atau kerja dirumah saja ?
Pengamen : aku iku mas, kulo i boten gadah ijazah kulo nggeh mboten sekolah, kulo mboten wontwn wong tuone ngoten mas. Niki kulo ngamen sitik sitik nggeh kanggo nggolekke adik kulo ngoten mas
Peneliti      : berapa tahun mas dijalan ?
Pengamen : 2 tahun mas
Peneliti      : pernah sekoplah gak mas ?
Pengamen : gak
Peneliti      : Lulusan SD mas ?
Pengamen : gak
Peneliti      : pernah capek mas jadi pengamen mas ?
Pengamen : biasa aja mas, udah kulina mas
Peneliti      : apakah mau jadi seperti ini terus ? apakah mau jadi pengamen terus ?
Pengamen : ya nggak mas, kalau ada kerjaan ya saya mau kerja, cuman sampingan kok mas
Peneliti      : kerjanya apa mas ?
Pengamen : kernet mas, tapi kernetnya itu mas.. apa.. gak lama mas, udah naik ya kan, eh udah sebulan ya kan nanti turun lagi ngamen lagi, gitu mas
Peneliti      : Punya pacar gak mas ?
Pengamen : gak punya mas
Peneliti      : kalau pandangan masyarakat gimana mas ?
Pengamen : nggeh ning dalan nggeh ngeten iki mas, sak ueong ning dalan nggeh kadang di gremang gremeng i, kene kono, wong ganteng ganteng kok ngamen, ngene wae. Heleh buk ngamen angger penting halal lah wis a penting angger ora nyolong jumput ngoten mawon mas, wong ngamen nggeh sak wontene sak pawehe sak ikhlase.
Peneliti      : Nanti kalau sudah selesai pulang gitu mas ?
Pengamen : nggeh mas, ngeten mangkate jam pitu engko wangsule jam gangsal
Peneliti      : kalau ketemu pengamen pengamen lain itu ada wilayah wilayahan gak mas ?
Pengamen : nggeh wonten, niku rencange katah, nggeh niki nggeh ngamen nggeh tiyang icalan mas
Peneliti      : sehari dapat berapa mas biasanya ?
Pengamen : nggeh dereng mesti kok mas, seng mesti modele nggeh sak olehe ngoten mas
Peneliti      : dari pemerintah gimana mas ?
Pengamen : nggeh niku mas, ning jalanan niki nak wonten bupati nggeh alate didelekke riyen, ngoten. Kalasan nggeh niku ketuane ngeten “ wes kue ati-ati yo, iki lagi ono teko kabupaten, ketuane bupati rene alate didelekke riyen” oh nggeh pak, nggeh ngoten ben ra ketok.
Peneliti      : ada basecamp nya gak ?
Pengamen : oh, ra ono. Muleh wong ngamen kene do duwe omah kabeh kok mas, do muleh kabeh
Peneliti      : gak ada yang asli jalanan ya ?
Pengamen : mboten wonten, nggeh wonten tiyang ndalan nggeh niku mas modele di usir mas. Modele ketok elek niku lho tiyange, wong ndalan i ngeten modele wong ngamen-ngamen twng mrikikusus wong resik-resik mas, ning kudus ben mbonten wonten wong rese-rese ngoten mas.
Peneliti      : lebih ramai di jalan apa didesa-desa mas ?
Pengamen : nggeh nak ning desa nggeh rame, niki ngeten sing di pake ning bis-bisan ngoten mas, niku modele nglampah tuerus mas ning kampung-kampung.
Peneliti      : jam segini masih sepi yamas, kalau rame jam berapa ?
Pengamen : nggeh nak rame ngeten mas, nak esuk ngeten nggeh rame, engko mulai jam sedoso munggah nganti jam kaleh niku teseh sepi, engko jam tigo nganti jam wolu bengi niku rame
Peneliti      : yang terakhir mas, kesan apa yang didapat dari mengamen ini mas ?
Pengamen : pengalaman e nggeh niku mas,ngenek tok niku mas semarang-suroboyo, nyambi mas
Peneliti      : kadang ngenek juga ya mas ?
Pengamen : nggeh mestine ngoten nggeh, kulo ngamen nggeh mestine bosen mas, blenger. Ngene ngetine ngeti ndalan terus mboten wonten pengalaman e lah, ngoten lho mas. Nak bis bis ngoten wonten pengalaman e iki ngendi-iki ngendi niku mas, empon ngertos ngoten
Peneliti      : lebih luas pengalaman jadi kernet ya mas, iso tekan ndi-ndi
Pengamen : nggeh nak wonten klancor-klancore niku jalan e rene, jalan rene ngoten mas
Peneliti      : sekali lagi mas, harapan nya dari pemerintah apa ?
Pengamen : ngamen lah ning kudus kudu rajin, sing wonge koyok anak punk ngoten niku dikengken nyisehke ngoten mas. Bagian ning dalan-dalan, bagian ning njero-jero ngoten, ning mriki sing ra iso diatur langsung dilebok ke mawon ngoten, dibelke polsek, ngoten.
Peneliti      : pengamen ini ada aliran nya gak mas ? dari slank, punk, atu netral ? biasanya kan ada seperti itu mas
Pengamen : mboten, iki kulo khusus ning bis-bis tok, niki nggeh mau wonten bis nggeh kulo munggah, mengko ngandape nggih ning ngembal,ngoten mas.
Peneliti      : oh, nggeh mas, sampun. Matur suwun nggeh mas sampun diparingi wektune.

Dari hasil wawancara diatas saya sedikit belum puas karena ada beberapa pertanyaan yang jawabannya belum sesuai dengan apa yang saya harapkan, dan saya sedikit kecewa karena belum menemukan anak jalanan yang asli anak jalanan, maksut saya anak jalanan yang memang tinggalnya dijalan-jalan, bukan yang ngamen kemudian pulang kerumah. Tapi apa daya dikudus tidaj ada yang asli anak jalanan, jadi saya wawancara seadanya saja.

PENUTUP

Dari penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa anak jalanan tidak semuanya jelek seperti yang dipandang masyarakat. Anak jalanan adalah sekumpulan anak-anak yang hidup dijalan-jalan, tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan, tidak punya orang tua, dan tidak pernah tahu apa itu pendidikan. Mereka biasanya memilih menikmati hidupnya untuk bekerja, mengamen, mengemis, dll.
Permasalahan anak jalanan akan semakin rumit jika dibiarkan saja. Semakin hari angka tersebut akan semakin tinggi, jika tidak dilakukan upaya tegas dari pemerintah. Banyaknya anak putus sekolah dan beralih menjadi anak jalanan sebab yang mendasar adalah masalah ekonomi keluarga. Disini peran pemerintah sangat diperlukan. Untuk menanggulanginya pemerintah dapat menciptakan lapangan kerja, program kredit usaha rakyat atau koperasi, memberikan ketrampilan dan modal usaha agar para orang tua bekerja dan mampu menyekolahkan anak mereka. Dan yang terpenting adalah sosialisasi atau kampanye tentang arti penting pendidikan. Memberikan pemahaman tentang arti penting dari generasi sekarang untuk masa depan bangsa ini.



LAMPIRAN
Anak Jalanan,
Seringkali mereka dianggap rendah, seperti sampah
Yang mengotori halaman dalam kehidupan kemasyarakatan
Selalu dianggap sebagai orang-orang yang tidak punya moral, pengacau, perusak,
Ataupun pemberontak.
Tapi,
Tidak semua yang hidup dijalanan berperilaku seperti tidak punya aturan
Mereka hanyalah sekumpulan ikatan yang jauh dari kata perhatian
Andaikan diberi kesempatan, mungkin mereka akan berkarya lebih dari yang memiliki jabatan
Lebih bagus mana mereka yang bertindik, tapi memiliki hati baik
Atau mereka yang berpendidikan, tapi perbuatan seperti Babi yang keluar dari hutan
Atau mereka yang memiliki kekuasaan, tapi kelakuan seperti Tikus yang kelaparan
Daftar Pustaka
Pengamen Terminal Bus Kudus : Selasa, 01 Desember 2015 jam 09:22 WIB.

Senin, 15 Februari 2016

Mengapa Aku Menulis ?



Assalamualaikum, Wr. Wb.

MENGAPA AKU MENULIS ?
Mengapa aku menulis?  Itu adalah pertanyaan yang sederhana,  tapi itu adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk aku jawab, meski pertanyaannya se-sederhana itu, tapi artinya sangat dalam untukku. Tidak selamanya aku selalu ingin menulis, kadang semangat sekali untuk terus menulis menulis dan menulis, kadang juga tidak sama sekali, seperti mati rasa untuk berfikir sebuah kata-kata.
Oke, aku akan sedikit bercerita tentang alasan mengapa aku menulis.
Seperti yang kita ketahui di zaman modern ini yang namanya manusia mempunyai akal sehat pasti setiap hari melakukan kegiatan yang namanya menulis. Meski bukan berprofesi sebagai penulis, ataupun sekedar hobi menulis kata-kata, tapi secara sadar ataupun tidak sadar setiap hari orang pasti melakukan kegiatan yang satu ini. Apalagi kita seorang pemuda yang berstatus Mahasiswa, setiap hari setiap jam pasti bergelut dengan aktifitas yang satu ini. Seperti menulis materi yang diberikan Dosen didalam kelas, membuat artikel ataupun makalah untuk tugas presentasi, atau yang hanya sekedar menulis sms, ataunstatus difacebook, twitter, bbm, instagram, atau situs dunia maya yang lain, setiap orang dizaman modern ini pasti pernah melakukannya, dan pasti pernah. Cuman orang-orang yang kurang pergaulan atau Kuper yang tidak pernah menyentuh yang namanya dunia maya. Dan biasanya orang-orang itu disebut “ CUPU “ oleh sebagaian orang yang merasa dirinya gaul.
Oke, balik lagi ke menulis. Mengapa aku menulis? Jawabannya mudah, karna aku masih punya tangan untuk mengetik keybord computer atau sekedar memegang pensil yang panjangnya hanya 5 cm.. hehe, bercanda.
Sekarang gini aja, mengapa kita mencari ilmu segunung, menghabiskan uang berjuta-juta, tapi ilmu yang kita punya tidak bermanfaat bagi orang lain? Setiap hari ilmu yang kita pelajari dan kita kuasai itu tidak terhitung banyaknya, seperti ilmu ketika dikelas mendengarkan guru atau dosen yang mengajar, ilmu dari teman-teman diskusi dalam organisasi, ataupun yang suka belajar secara otodidak dengan hanya sekedar membaca buku ataupun dunia maya, banyak sekali ilmu yang bisa kita dapatkan dari semua itu, apa gunanya semua ilmu itu kalau kita tidak mengikatnya dengan tulisan? Akan sangat buruk akibatnya, mengingat didunia ini tidak ada yang abadi. Ikatlah ilmu itu dengan tulisan, agar ilmu tersebut tidak terlupakan ditelan zaman. Rasulullah s.a.w. telah mewasiatkan:
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ رواه الطبراني والحاكم وصححاه ووافقه الألباني
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (Riwayat Tabrani dan Hakim, keduanya menyatakan sebagai hadis sahih dan disetujui oleh Al-Albani)
Bayangkan, apa jadinya apabila ilmu itu tidak ditulis? Tentu gambaran yang sangat buruk jadinya. Contoh nyata, ketika Abu Bakar r.a. atas usulan Umar al-Khattab r.a. memerintahkan Zaid bin Tsabit r.a. agar mengumpulkan al-Quran yang masih berada di dada-dada para sahabat, untuk dituliskan atau dibukukan. Karena kekuatiran Umar al-Khattab r.a. pada masa itu. Kita bertanya, mengapa seorang khalifah kuatir? Karena pada masa itu, banyak huffazh (penghapal Al-Qur’an) yang gugur sebagai syuhada dalam peperangan. Dari situlah Umar al-Khattab r.a. melihat bahawa al-Quran itu perlu ditulis. (http://tamanulama.blogspot.co.id/2009/04/menulis-tradisi-ulama-yang-terlupakan.html)
Itulah beberapa hadits yang menyatakan betapa pentingnya menulis. Tapi banyak orang yang beranggapan menulis ataupun jadi penulis itu susah, mereka beralasan tidak punya bakat soal menulis. Bahkan ada juga yang setiap harinya digunakan untuk membaca lebih dari satu buku, tapi ketika disuruh menulis satu halaman saja sangat sulit.
Memang benar menulis itu tidak gampang, tidaklah segampang membalikkan telapak tangan, ataupun tidak segampang melangkahkan kaki untuk berjalan. Tapi sebenarnya menulis juga tidak susah, tidak sesusah menjilat hidung sendiri, dan juga tidak sesusah berjalan diatas air. Seperti aku contohnya, aku dilahirkan bukan dari keluarga yang berpendidikan tinggi, dari kecil aku tidak suka menulis, apalagi membakatinya. Bahkan ketika SD, SMP, aku tidak pernah mau ketika disuruh guru menulis pelajaran. Mungkin menulis bukanlah bakatku, mungkin bakatku hanyalah dibidang seni dan olahraga. Tapi seiring berjalannya waktu, perlahan aku mulai suka dengan kegiatan menggoyang-goyangkan tinta diatas kertas. Pertama kali aku menulis, tulisanku jelek sekali, aku hanya bisa menulis seadanya, tidak dengan kata-kata yang indah dan penuh makna. Tapi karna adanya kemauan, lama kelama’an aku mulai bisa menulis walaupun hanya 5 baris. Seperti yang aku ketahui, aku bukanlah orang yang suka bicara, atau dengan kata lain aku orangnya sedikit pendiam. Mungkin aku tidak bisa kalau disuruh berbicara dengan orang lain panjang lebar, aku juga tidak cukup ahli untuk berimajinasi ataupun sekedar mengkritisi lewat suara, aku suka grogi ketika harus disuruh mempresentasikan sesuatu kepada semua orang, aku kurang percaya diri. Dari kelemahan itulah aku lebih suka mengekspresikan opiniku lewat tulisan, karena dengan tulisan orsng sksn cenderung lebih terkesan, dan tidak ada satupun orang yang berani melarang, karna menulis adalah hak semua orang.
Menulis juga bisa dijadikan lambang kreatifitas seseorang, seperti halnya seni, menulis juga membutuhkan kreatifitas dan imajinasi yang tinggi, cara berfikir seseorang tentang apa yang dirasakan bisa menimbulkan keindahan kata serta keuletan gaya bahasa bisa menjadi kepuasan hati tersendiri untuk pembacanya, dan juga bisa menjadi nilai jual yang tinggi dipasaran.
Menulis adalah satu-satunya jalan ketika aku sedang kesusahan, menulis aku jadikan media untuk curhat melepaskan semua beban perasaan, entah itu hanya status biasa difacebook, twiter, ataupun artikel beribu-ribu karakter disebuah halaman blogger.
Ketika aku sedih, menulis. Ketika aku bahagia, menulis. Ketika aku tidak merasakan apa-apa pun juga menulis. Yang penting itu harus menulis, menulis, dan menulis. Meskipun tulisan kita sekarang tidak ada yang mau baca, tapi insya allah tulisan kita akan berguna bagi generasi selanjutnya.
Seperti kata-kata yang aku gak sengaja dengar dari kutipan sebuah film yang berjudul “Assalamualaikum Beijing” salah satu tokoh dalam film itu yang bernama Asma berkata : “Dengan semua rangkaian takdir yang Allah berikan, menulis karnanya menjadi penambah bekal dan amal jarizah, tambahan kebaikan jika sewaktu-waktu harus menghadap allah”
Dari kata-kata itu dapat kita simpulkan bahwa suatu tulisan bisa menjadi tambahan amal jarizah, jika penulis itu ikhlas semata-mata karena allah dan yang kita tulis itu suatu hal yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Hal ini dibenarkan juga oleh hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia maka terputus darinya amalannya, kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (Riwayat Muslim)

dari semua itu dapat kita simpulkan bahwa menulis sangat-sangatlah penting. Selain sebagai media untuk menyuarakan suara, sebagai ajang untuk mencurahkan isi hati, sebaga tempat untuk mengikat ilmu yang kita miliki, menulis juga bisa menjadi kebaikan yang pahalanya akan terus abadi.

Dan satu lagi,
Bagiku, jadi Penulis adalah suatu Impian. Karena, Setiap Kata adalah Keindahan.

Assalamualaikum, Terima kasih.

Minggu, 14 Februari 2016

Diary 4 ( ceritaku setelah lulus sekolah, Tentang Kehidupan )



Assalamualaikum kawan,

Seperti biasa kali ini aku akan menceritakan kehidupank setelah lulus SMA.
Setelah ujian nasional sambil menunggu penggumuman hasil UN aku meluangkan waktu untuk mengikuti Pelatihan kerja milik Pemerintan dikota demak. Aku berada disana selama sekitar 1 bulan, dan aku mengambil jurusan computer. Setelah itu aku sempat bingung mau apa, aku pernah kerja sebagai kuli bangunan, sebagai pedagang asongn juga pernah. Tapi itu hanya bersifat sementara, sebenarnya aku sih pingin nglanjutin kulyah, tapi karna keadaan orang tua yang tidak mampu menyekolahkan aku lagi, akhirnya aku mengurungkan niat ku itu.

Setelah aku fikir-fikir dengan matang, dan aku pertimbangkan, akhirnya aku memutuskan untuk ikut pergi merantau ke pulau Sumatra. Tujuannya sih sederhana ya, tidak lain tidak bukan pasti mencari uang. Tapi yang terpenting bukanlah itu, tujuan utama saya kesana adalah untuk mencari pengalaman, mencari ilmu tentang kehidupan dan juga ingin mencari jati diri, karena bosasn hidup dilingkungan yang tidak aku suka.

Pertama naik bis saja aku sudah agak ragu, aku bertemu teman-teman lama waktu masih SD, tapi mereka bukanlah teman-teman yang baik, semoga ssaja cuman pandangan ku sih. Ada seitar 20 orang dari desaku, mulai dari yang masih muda, sampai yangsudah berkepala tiga ikut didalam bis itu. Dan itu adalah kali pertama aku naik kapal.. hehe. Maklum dari kecil sampai sekarang belum pernah menyentuh yang namanya kapal, apalagi pesawat. Sesampainya disana diterminal ALS (Antar Lintas Sumatra ) kota Medan jln.sisnga mangaraja (marendal) hehe.. aku masih ingat tempatnya, dan dari situlah aku mulai mengenal kota medan. Kota terbesar ke-4 di Indonesia setelah bandung dan Surabaya. Kota yang katanya juga termasuk Metropolitan. Kupikir sih medan seperti Jakarta ya, ada gedungnys ysng tinggi-tinggi, tapi ternyata tidak.

Disana disana aku belajar bekerja sebagai Pedagang, dagang makanan, tepatnya Harumanis & Pop Corn. Awalnya sih gak  bisa ngikat tali bungkus arumanis, sampai-sampai tnganku sakit. Tapi setelah belajar sekitar seminggu lama kelamaan akupun bisa. Aku berkeliling bersama temanku di seputaran Medan dan Aceh. Mulai dari Louk sukon, Sigli, Takengon, Loukseumawe, Rantau Prapat, Louksukon lagi, Padang Sidempuan, Sipirok, Blang Pidie, Trumon, Batu Bara, Kuta Chane, Siantar, Stabat, dan yang terakhir di dekat Bandara Polonia Medan, waktu acara Imlek. Wow.. banyak banget ya kota-kota yang sudah aku kelilingi. mulai dari louksukon, aku mengenal kecamatan yang namanya “ Syamtalira Aron “ awalnya mendengarnya sih lucu ya.. hehe. Tapi dari situ aku mulai mengenal Aceh. Provinsi yang mayoritas penduduknya beragama islam. Provinsi yang mempunyai julukan Serambi Mekah. Masyarakatnya yang katanya membenci orang-orang jawa, tapi yang aku lihat disana warganya ramah-ramah kok.. apalagi perempuannya, cantik-cantik sekali, semuanya berhijab.
Kemudian di Takengon, aku mengenal kota yang dijuluki kota dingin. Disana itu udaranya dingin sekali, walaupun tidak ada AC nya.. tidurpun aku gak bisa, karena begitu dinginnya. Apalagi waktu hujan..brrr, airnya itu lho.. uda seperti air es. Kemudian di Rantau prapat, ketika aku jauh dari teman, dari sahabat, ketika prasaanku tersakiti setiap hari, ketika aku mulai rindu akan sosok keluarga.. disituah aku mulai menemukan arti dari sebuah kehidupan.

Disana aku terlatih untuk menjadi orang yang sabar, walaupun setiap hari dimarahi. Disana seolah-olah aku sendiri gak ada yang menemani, jauh dari teman sejati.. walaupun banyak teman, tapi gak ada satupun yang sehati. Disana aku mengerti arti ketergantungan, pengorbanan, dan perjuangan. Aku merindukan sosok seorang sahabat yang pergi entah kemana.. aku sendirian.

Kemudian dimedan, waktu Hari Raya umat cina atau Imlek. Wussh… suasananya itu lho.. sudah seperti diluar negri, walaupun belum pernah ke luar negri sih.. hehe. Tapi bayangin aja, orang-orangnya itu bening-bening, putih-putih, serta berpakaian bikini.. maklum lah orang cina. 
Tapi ada yang sedikit membuat aku sedih disana, ketika melihat orang-orang cina yang notabene bukan penduduk asli Indonesia bisa menguasai industry dan banyak yang menjadi bos perusahaan besar di Indonesia. Entah kenapa.. apa orang Indonesia terlalu bodoh ya?? Tapi entahlah.. Aku berjanji suatu saat ingin mengubah keadaan itu…!!!

Sudah dulu ya ceritanya tentang kehidupan disumatra.. sebenarnya masih banyak sih yang ingin diceritakan. Tapi lain kali aja ya… hehe.
Bye.. sampai jumpa lagi.

Disqus Shortname

Comments system