Sering sekali orang mendengar istilah kata mendaki, pasti mainseat orang tertuju pada puncak. Padahal kalo dilihat lebih dalam, mendaki itu ya memang bukan hanya sekadar tentang puncak. Kalian pasti merasakannya bukan?
Sebenarnya ada banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari pendakian. Misalnya saja pertemanan, persahabatan, perjuangan, pengorbanan, cinta, tekad, mimpi, keyakinan, keikhlasan, keberanian, kepercayaan, keindahan, kesederhanaan, kerendahan, kerja sama tim, solidaritas, saling menjaga, menghargai alam, menghargai sesama, dan masih banyak lagi sebenarnya.
Dalam pendakian kita berfikir tujuan kita pasti sampai ke puncak. Padahal tujuan yang sebenarnya adalah bagaimana kita bisa selamat sampai dirumah dan bertemu keluarga tercinta. Keinginan untuk sampai puncak bagi para pendaki memanglah sangat wajar. Karena yang difikirkan dari awal adalah sampai dipuncak dan merayakan kemenangan. Tekad itulah yang justru sering menjadi blunder bagi seorang pendaki itu sendiri. Dalam pendakian memang tidak dituntut harus naik banyak orang, tetapi sangat jarang kita mampu untuk naik sendirian, pasti kita membutuhkan tim untuk berjalan. Ya benar memang berjalan sendiri bisa membuat kita jadi cepat, tapi berjalan bersama teman kita bisa lebih jauh.
Tentang perjalanan bersama tim, yang paling sulit adalah menyatukan ego dan fikiran menjadi satu tujuan. Hal yang penting ini memang terlihat mudah tetapi akan jadi sangat sulit bila kita ada dilapangan. Seringkali dalam tim akan ada beberapa anggota yang pemikirannya berbeda atau berlawanan, dan ini akan membuat kocar kacir semua rencana yang sudah tersusun rapi jauh-jauh hari. Disinilah pemimpin dibutuhkan dalam pendakian. Dan inilah tugas yang sebenarnya dari seorang pemimpin. Namun bukan hanya pemimpin yang bekerja keras, namun setiap anggota juga seharusnya mampu mendukung dengan tidak memaksakan ego masing-masing, dan berusaha sebisa mungkin untuk saling percaya kepada teman.
Kepercayaan adalah kunci untuk kita menjalin suatu hubungan. Baik itu hubungan keluarga, hubungan bersama kekasih, atau hubungan kepada sesama. Dalam konteks ini kita bicara hubungan antar anggota dalam suatu tim. Dalam suatu organisasi terkadang kita merasa kita adalah yang paling bisa, padahal pikiran itu adalah benalu yang merusak pelan-pelan pertumbuhan tim kita. Dalam suatu organisasi kita pasti akan saling membutuhkan, seperti layaknya tubuh kita, kalau misalkan tangan kita terluka pasti mata ikut menangis. Dan jika mata menangis pasti tangan akan membantu mengusapnya. Hubungan timbal balik seperti inilah yang harusnya dikembangkan dalam suatu tim. Bukan malah memaksakan ego masing-masing.
Bicara tentang ego, pasti mengarah ke pemikiran. Dalam konteks pendakian kita sering berfikir bahwa kita adalah yang paling tinggi, kita adalah yang paling bisa. Itu adalah pola pikir yang jelas salah kaprah. Kita ada ditempat yang paling tinggi bukanlah untuk pamer, bukan kita untuk merasa bisa, bukan untuk kita merasa mampu, bukan pula untuk kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Sering kali ketika kita berada ditempat tertinggi kita melihat kebawah, dan kita menganggap semuanya itu kecil dan tak terlihat. Kita merasa orang lain itu rendah dan kita adalah yang paling tinggi. Tanpa kita sadari orang-orang pun melihat kita kecil sebenarnya, dan tak terlihat meski ditempat tertinggi yang harusnya terlihat oleh semua bola mata yang ada. Dari pendakian inilah kita juga diajarkan untuk merendah.
Untuk menjadi tinggi tanpa merendahkan.
Untuk menjadi besar tanpa mengecilkan.
Untuk menjadi kuat tanpa melemahkan.
Untuk jadi yang terdepan tanpa harus menyingkirkan.
Untuk jadi pahlawan tanpa harus melawan.
Dan untuk jadi yang terbaik tanpa harus memburuk-buruk kan.
Ingat!
Kita boleh dipandang hina, tapi jangan sekalipun menghina orang lain.
Kita boleh dianggap rendah, tapi sekalipun jangan pernah merendahkan orang lain.
Kita boleh merasa kecil, tapi sekalipun jangan pernah mengecilkan orang lain.
Merendahlah sampai tak seorang pun mampu merendahkan mu...